YANG TELAH PERGI

Dinding kokoh di menara putih itu telah retak
Pohon tinggi di jalan lurus itu telah tumbang
Meninggalkan puing-puing pilu yang tak tertahan
Mengurung hati untuk tidak terbuka lagi

Mekar bunga yang dulu ada, berganti duri
Benih cinta yang kutanam, disemai orang lain
Mimpi-mimpi yang telah kita rajut, berujung dusta
Keras hati menahan tangis, namun terdobrak oleh kecewa
Besar ikhtiar untuk tersenyum, namun sirna oleh bayangnya

Wahai kasih...
Ketahuilah, bibit-bibit cinta yang dulu kuberikan telah berakar
Semakin kokoh dan semakin tinggi

Andaikan aku boleh jujur
Aku ingin engkau kembali dan tak ingin lepasmu lagi
Duniaku asing tanpamu
Senyum dan tawaku palsu

Kuingin engkau kembalikan yang hilang
Mengembalikan apa yang engkau renggut
Senyum, bahagia, cinta, dan tawaku

Kini...
Hidupku sepi, terjepit, dan hancur
Namun, akan kucoba melangkah dan bijak untuk berkata "bahagiamu bahagiaku"

LIKU HIDUP


Jauh kumelangkah menaruh jejak
Berharap bahagia bisa kujemput
Bahagia yang tak menaruh jejak
Dan tak akan berujung jejak

Dunia tak lagi tersenyum
Melihat malam tak berganti embun
Dunia tak sanggup lagi tertawa
Mendengar burung tak berkicau

Hampa,
Semua ketidak pastian
Bingung,
Semua serba kemunafikan

Yaa... Liku kehidupan

IBU


Ibu...
Laksana embun di pagi hari,
adalah kasih sayangmu
selalu menyejukkan hentak langkah kami
dengan penuh ikhlas, kau sirami jiwa kosong kami
tak pernah terucap lelah di bibirmu
tak pernah pula hatimu bergelut dengan kami
karena kami tahu, engkau sayang

Ibu...
Laksana awan di siang hari, adalah putih cintamu
selalu menjaga hembus nafas kami
dan ketika dunia semakin gelap, engkau menuntun kami
berjalan dengan cahaya kasih,
meraba dengan tali cinta
lembut suaramu redam gundah kami

Ibu...
Kami sadar., tidak akan ada
sunggingan senyum tanpa hadirmu
kami sadar, beribu duri telah kami tancap di hatimu
dan kami sadar, hanya puluhan maaf yang terucap

melalui goresan pena ini, kami bersuara
andaikan waktu dapat kami putar
kami ingin kembali saat-saat itu
kembali di saat kami tidak indahkan nasihatmu
kembali di waktu kami bersilat lidah denganmu
kembali di kala kami ucap kata Ah
dan kembali di saat kami menancap duri khianat di hatimu.

Kurangkai berjuta kata maaf
kan kukalungkan di hatimu yang penuh luka
kunyanyikan lagu kasih
kan kudendangkan di telinga sucimu

Melalui titik-titik tinta ini
kami tulis dan lukiskan maaf
maaf putih dari kami, 
Manusia yang sering menyakitimu


Sebuah puisi yang bercerita tentang curhatan seorang Anak yang memiliki penyesalan luar biasa terhadap apa yang telah dilakukan terhadap ibunya. semoga kita tidak termasuk di dalamnya.